Kamis, 19 April 2012

tugas agama islam


Agama Islam
(Sumber, Aspek, dan Karakteristiknya)
Oleh: Fikri Farhan[1]
A.    Mukaddimah
            Islam dari segi kebahasaan berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima selanjutnya diubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri masuk dalam kedamaian. ada juga yang mengatakan aslama berarti pula menyerahkan diri, patuh, dan taat,. Dari uraian diatas kita sampai pada suatu kesimpulan bahwa islam dari segi kebahasaan mengandung arti patuh, tunduk, taat, dan berserah diri kepada tuhan dalam upaya mencari keselamatan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.
Adapun pengertian islam  dari segi istilah menurut Harun Nasution  adalah agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan Tuhan kepada masyarakat manusia melalui Nabi Muhammad SAW, Sebagai rasul. Islam pada hakikatnya bukan hanya membawa ajaran pada satu segi, tapi mengenal berbagai segi dari kehidupan manusia.[2]
Aqidah adalah suatu keyakinan yang tersimpul kokoh didalam hati, bersifat mengikat dan mengandung perjanjian, yang mendasari seluruh ajaran islam. Aqidah juga dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan keimanan, yang dalam islam berpangkal pada konsep tauhid atau pengesaan Allah, baik zat, sifat, maupun perbuatannya.
Agama islam adalah satu-satunya agama yang haq dalam pandangan Allah. Sesuai dengan dalil al-quran “sesungguhnya agama yang benar disisi Allah adalah islam”.
Agama islam adalah satu-satunya agama yang diterima disisi Allah, sesuai dengan firman Nya dalam al-quran “ sesungguhnya agama yang terima disisi Allah adalah agama Islam". Hal ini dapat diterima dengan akal sehat setelah mengerti sumber ajarannya, aspek ajarannya, serta karakteristiknnya. Makalah ini akan membahas tentang agama islam ( sumber, aspek, dan karakteristiknya).
B.     Sumber Ajaran Islam
Sumber ajaran Islam (Hukum Islam, Syariat Islam) itu ada tiga, yakni Al-Quran, As-Sunnah, dan Ijtihad. Yang pertama dan kedua asalnya langsung dari Allah SWT dan Nabi Muhammad Saw. Sedangkan yang ketiga merupakan hasil pemikiran umat Islam, yakni para ulamamujtahid (yang berijtihad), dengan tetap mengacu kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

1.      Alquran
Alquran adalah Kalam Allah ta’ala yang diturunkan kepada Rasul dan penutup para Nabi-Nya, Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam, melalui perantara jibril, secara berangsur-angsur,membacanya adalah ibadah, diawali dengan surat al-Fatihah dan diakhiri dengan surat an-Naas.
Isi kandunga  alquran antara lain adalah :
1.      Pokok-pokok keimanan (tauhid) kepada Allah, keimanan kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, hari akhir, qodli-qodor, dan sebagainya.
2.      Prinsip-prinsip syari’ah sebagai dasar pijakan manusia dalam hidup agar tidak salah jalan dan tetap dalam koridor yang benar bagaiman amenjalin hubungan kepada Allah (hablun minallah, ibadah) dan (hablun minannas, mu’amalah).
3.      Ajaran tentang akhlak yang mulia
4.      Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik (basyir) dan ancaman siksa bagi yang berbuat dosa (nadzir).
5.      Kisah-kisa sejarah, seperti kisah para nabi, para kaum masyarakat terdahulu, baik yang berbuat benar maupun yang durhaka kepada Tuhan.
  1. Dasar-dasar dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan: astronomi, fisika, kimia, ilmu hukum, ilmu bumi, ekonomi, pertanian, kesehatan, teknologi, sastra, budaya, sosiologi, psikologi, dan sebagainya.[3]

Al-Quran yang merupakan sumber utama ajaran Islam ini benar-benar merupakan kebenaran sejati sebagai pedoman hidup (way of life) manusia. Melalui Al-Quranlah Allah SWT menyatakan kehendak-Nya. Mengikuti tuntunan dan tuntutan Al-Quran berarti mengikuti kehendak-Nya.
Itulah sebabnya Allah sendiri yang menjamin keaslian Al-Quran sejak pertamakali diturunkan. Makanya, hingga kini apa yang ada dalam Al-Quran, itu pula yang diterima dan dicatat para sahabat Nabi Saw. Hingga kini isinya masih dalam teks asli, tanpa sedikit pun perubahan, baik dalam jumlah surat, ayat, bahkan huruf. Tidak tercampur di dalamnya ucapan Nabi Muhammad Saw atau perkataan para sahabat.[4]
“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Quran dan sesungguhnya Kami tetap memeliharanya” (Q.S. 15:9).

2.      Al-Sunnah
Al-Sunnah adalah sesuatu yang datang dari Nabi Muhammad saw baik berupa perkataan atau perbuatan dan atau persetujuan yang mengandung ajaran islam.[5]
Kedudukan As-Sunnah sebagai sumber hukum Islam dijelaskan Al-Quran dan sabda Nabi Muhammad Saw.
“Demi Tuhanmu, mereka pada hakikatnya tidak beriman sehingga mereka menjadikanmu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, lalu mereka tidak merasa berat hati terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima sepenuh hati” (Q.S. 4:65).
“Apa yang diberikan Rasul (Muhammad) kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah” (Q.S. 59:7).
“Kutinggalkan untuk kaliam dua perkara. Kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, selama kalian berpegang kepada keduanya, yakni Kitabullah (Quran) dan Sunnah Rasul-Nya”.
“Berpegangteguhlah kalian kepada Sunnahku dan kepada Sunnah Khulafaur Rasyidin setelahku” (H.R. Abu Daud).
Sunnah merupakan “juru tafsir” sekaligus “juklak” (petunjuk pelaksanaan) Al-Quran. Sebagai contoh, Al-Quran menegaskan tentang kewajiban shalat dan berbicara tentang ruku’ dan sujud. Sunnah atau Hadits Rasulullah-lah yang memberikan contoh langsung bagaimana shalat itu dijalankan, mulaitakbiratul ihram (bacaan “Allahu Akbar” sebagai pembuka shalat), doa iftitah, bacaan Al-Fatihah, gerakan ruku, sujud, hingga bacaan tahiyat dan salam.
Ketika Nabi Muhammad Saw masih hidup, ia melarang para sahabatnya menuliskan apa yang dikatakannya. Kebijakan itu dilakukan agar ucapan-ucapannya tidak bercampur-baur dengan wahyu (Al-Quran). Karenanya, seluruh Hadits waktu itu hanya berada dalam ingatan atau hapalan para sahabat.
Kodifikasi Hadits Rasulullah dilakukan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (100 H/718 M), lalu disempurnakan sistematikanya pada masa Khalifah Al-Mansur (136 H/174 M). Para ulama waktu itu mulai menyusun kitab Hadits, di antaranya Imam Malik di Madinah dengan kitabnya Al-Mutwaththa, Imam Abu Hanifah menulis Al-Fqhi, serta Imam Syafi’i menulis Ikhtilaful Hadits, Al-Um, dan As-Sunnah.
Berikutnya muncul Imam Ahmad dengan Musnad-nya yang berisi 40.000 Hadits. Ulama Hadits terkenal yang diakui kebenarannya hingga kini adalah Imam Bukhari (194 H/256 M) dengan kitabnya Shahih Bukhari dan Imam Muslim (206 H/261 M) dengan kitabnya Shahih Muslim. Kedua kitab Hadits itu menjadi rujukan utama umat Islam hingga kini. Imam Bukhari berhasil mengumpulkan sebanyak 600.000 hadits yang kemudian diseleksinya. Imam Muslim mengumpulkan 300.000 hadits yang kemudian diseleksinya.
Ulama Hadits lainnya yang terkenal adalah Imam Nasa’i yang menuangkan koleksi haditsnya dalam Kitab Nasa’i, Imam Tirmidzi dalam Shahih Tirmidzi, Imam Abu Daud dalam Sunan Abu Daud, Imam Ibnu Majah dalam Kitab Ibnu Majah, Imam Baihaqi dalam Sunan Baihaqi dan Syu’bul Imam, dan Imam Daruquthni dalam Sunan Daruquthni.

3.      Al-ijtihad
Ijtihad berasal dari kata ijtahada, artinya mencurahkan tenaga, memeras pikiran, berusaha keras, bekerja semaksimal mungkin. Secara terminologis, Ijtihad adalah berpikir keras untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu masalah yang tidak secara jelas disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Pelakunya disebut Mujtahid.
Ijtihad merupakan dinamika Islam untuk menjawab tantangan zaman. Ia adalah “semangat rasionalitas Islam” dalam rangka hidup dan kehidupan modern yang kian kompleks permasalahannya. Banyak masalah baru yang muncul dan tidak pernah ada semasa hayat Nabi Muhammad Saw.  Ijtihad diperlukan untuk merealisasikan ajaran Islam dalam segala situasi dan kondisi.
Dalam islam, akal manusia diberi tempat yang sebaik-baiknya. Banyak hal yang menyangkut kehidupan duniawi, pintu ijtihad terbuka luas.[6]

C.    Aspek Ajaran Islam
Ajaran islam meliputi aspek kehidupan ruhaniyah dan jasmaniyah, duniawiyah dan ukhrawiyah , yang mencakup :
1.      Aqidah : berpokok pada ajaran tentang keyakinan kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir, Taqdir Allah
2.      Ibadah : Upacara pengabdian kepada allah yang bersifat ritual, yang telah diperintahkan dan diatur cara pelaksanaannya dalam Al-quran dan sunnah
3.      Akhlak : norma yang menentukan apakah sesuatu itu baik atau buruk, yang ditentukan oleh Quran dan Sunnah sebagai manifestasi Iman, Islam, dan Ikhsan.
4.      Mu’amalah : pengaturan pergaulan hidup bagi manusia di atas bumi.

D.    Karakteristik Islam
Yusuf al-Qardlawi dalam bukunya al-Khashaish al-Aammah li al-Islam, terbitan Maktabah Wahbah Kairo (1397 H./1977 M.) mengurai panjang lebar tentang karakteristik umum ajaran agama Islam untuk mewujudkan perilaku agama yang ideal yang selanjutnya disebut dengan  al-Mansyud yang terdiri dari tujuh hal yang mendapat perhatian yaitu :
1.      Rabbaniyah (ketuhanan), yaitu:
a.       Aspek Tujuan : mendapatkan ridla Allah swt.
b.      Aspek Sumber dan Metode: berdasarkan petunjuk dan wahyu ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana termaktub dalam al-quran dan Sunnah
2.      Insaniyah (kemanusiaan), yaitu : Tidak ada pertentangan antara konsep ketuhanan =dan humanisme, karena salah satu ajaran ketuhanan adalah untuk menjunjung tinggi derajat manusia dan memuliakannya.
3.      Syumul (universal), yaitu : Ajaran yang aplicatable untuk segala zaman, tempat dan seluruh umat manusia
4.      Wasatiyyah atau Tawazun (keseimbangan), yaitu: antara spiritual (ruhiyah) dan material (madiyah), antara individualisme (fardiyyah) dan sosialisme (jama’iyyah), antara realitas (waqi’iyyah) dan idealisme/utopia (mitsaliyyah), antara ketegasan (tsabat) dan fleksibilitas (taghayyur), Artinya, tidak mengabaikan aspek-aspek di atas dan memberikan porsi masing-masing secara adil.
5.      Waqi’iyyah (Realistis), yaitu:
a.       Ajaran yang sesuai dengan: Realitas alam semesta yang menunjukkan akan adanya Allah, Tuhan alam semesta,
b.      Realitas kehidupan manusia dengan sifat baik buruknya, yang berakhir dengan kematian dan dilanjutkan dengan kehidupan akhirat yang abadi,
c.       Realitas manusia sebagai makhluk yang komplek (terbuat dari unsur materi dan rohani, laki-laki dan perempuan, sebagai makhluk sosia
6.      Wudluh (Kejelasan), yang meliputi aspek-aspek sebagai berikut:


[1] Mahasiswa Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi Universitas Islam indonesia
[2] http://awalbarri-penggolongan.blogspot.com/2010/01/pengertian-agama-islam.html
[3] : Islam Agama Universal (Edisi Revisi), MIDADA RAHMA PRESS, Februari 2009, hlm.131-150

[4] www.zona islam.com



[5]Dr.H. Abdul majid khon, M.Ag. ulumul hadis (Jakarta:Amzah, 2009), p.2
[6] H. Djarnawi Hadikukusam, Ijtihad, dalam Amrullah Achmad dkk. (Editor), Persepektif Ketegangan Kreatif dalam Islam,Yogyakarta: PLP2M 1985, hlm. 21-29.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar